Breaking

Thursday, July 12, 2018

Petai di London

Di London ada yang menjual petai. Ada yang jual berarti karena ada yang membeli. Siapakah gerangan? Saya tidak yakin kalau yang membelinya adalah rakyat jelata. Siapa tahu menu utama keluarga kerajaan Ingris Raya adalah petai dan dan sambal terasi. Kita saja yang belum tahu.

Saya menemukan petai dijual di Grrard Street, kawasan yang dikenal sebagai China Town, London, bersama sayur-mayur lainnya. Ada kacang panjang, kubis, wortel. Tidak hanya satu supermarket yang menjualnya di sana.

Yang membuat saya tidak senang adalah bahwa petai dan sayur mayur itu tidak berasal dari Indonesia. Dari label yang ditempel pada kemasannya yang rapi itu terbaca bahwa itu dari Thailand.

Lha, kemana petai asal indonesia? Habis dikonsumsi dalam negeri? Atau tidak tahu cara mengekspornya ke luar negeri? Saya khawatir petai malah suatu ketika akan diimport seperti garam dan kedele.

Petai - juga sayur mayur yang lainnya - padalah hanya dikemas secara sederhana pakai plastik, lalu divakum. Terlihat rapi, bersih, dan higinis. Mesin pembuat kemasan seperti itu pun dijual di Jakarta. Setidaknya tidak sulit di dapat. Mengemasnya adalah pekerjaan sederhana, tidak perlu oleh seorang insinyur. Tidak ada alasan sebenarnya untuk tidak mau mengkespor produk-produk seperti itu.

Kalau pesawat terbang gagal kita ekspor ke luar negeri, masa petai juga harus gagal juga?

Ayo, mari kita pikirkan bersama. Hasil pertanian Indonesia berlimpah. Tanahnya yang subur menghasilkan ratusan varietas palawija dan buah. Tidak perlu pengolahan lebih lanjut yang rumit. Tinggal dikemas rapi lalu dikirim ke London -- dan kota-kota di Eropa lainnya.

Kita punya ubi jalar, singkong, daun singkong, kentang, cempedak, rebung, pakis, mentimun.

Mengapa sayur mayur itu dibiarkan membusuk dan harganya jadi murah? Mengapa tidak diekspor saja. Pasar di london seperti Brorough, dan bahkan Harrods menampungnya. Ayo bungkus.